Nilai tukar mata uang Indonesia atau yang biasa disebut dengan Rupiah ( Rp. ) akhir - akhir ini memang mengalami penurunan, namun bukan akhir - akhir ini saja mengalami penurunan dari masa reformasi sampai sekarang mata uang Indonesia atau Rupiah memang mengalami fluktuasi atau perubahan terutama terhadap mata uang Amerika Serikat atau yang biasa disebut USD ( $ ).
Memang saat ini mata uang Amerika atau dollar Amerika Serikat menjadi mata uang terkuat didunia saat ini, selain digunakan sebagai alat perdagangan internasional pertumbuhan ekonomi Amerika juga membaik setiap tahun atau bisa disebut selalu mengalami kenaikan positif setiap tahun.
Apalagi setelah krisis ekonomi dunia pada tahun 1998 membawa banyak dampak bagi ekonomi seluruh negara di dunia, terutama negara berkembang yang pada saat itu mengalami kebangkrutan total, negara berkembang pada saat itu memilih untuk meminjam alias hutang dengan Bank Dunia ( World Bank ) maupun IMF dan banyak negara tersebut yang gagal membayar hutang mereka alias default bahkan untuk menghadapi situasi sedemikian rumit negara tersebut akhirnya mencetak uang baru yang nilai nominalnya lebih besar dari nilai mata uang sebelumnya yang tentu saja akan mengakitbatkan ekonomi negara tersebut akan kacau, belum lagi berapa tahun lalu yang terjadi krisis ekonomi eropa yang membuat negara Yunani bangkrut, betapa hebat pengaruh krisis ekonomi membawa dampak sengsara bagi negara berkembang meskipun Indonesia tidak terkena dampak tersebut.
Indonesia saat ini telah memasuki ranking 10 besar tingkat ekonomi terbesar dunia, walaupun pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini mengalami perlambatan karena beberapa faktor lain, namun diharapkan pada kuartal ke III nanti Indonesia mampu kembali bangkit dan mencapai target pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai di atas 7% pada akhir tahun 2015.
Perlemahan mata uang Indonesia atau Rupiah saat ini memang mengkhawatirkan dimana terus mengalami pelemahan hingga Rp. 13.000/1 dollar AS, bahkan ada perkiraan bisa mencapai angka Rp. 15.000/ 1 dollar AS, bayangkan jika rupiah terus mengalami perlemahan maka harga - harga kebutuhan di Indonesia akan naik, memang perbandingan antara perlemahan dengan kenaikan nilai tukar rupiah lebih besar perlemahan. Namun Pemerintah mengatakan jika perlemahan mata uang Indonesia atau rupiah hanya sementara karena belum lama kemarin telah ada pemilu presiden dan legislatif jadi banyak investor menunda investasinya di Indonesia serta tingkat belanja pemerintah juga masih sedikit karena masih dalam proses pematangan infrakstruktur.
Pemerintah juga mengatakan bahwa perlemahan mata uang Indonesia atau Rupiah saat ini dari kuartal I sampai kuartal II 2015 memang mempunyai kerendahan di bawah perlemahan mata uang Indonesia atau rupiah kuartal I sampai kuartal II 2009 yang saat itu memang posisinya sama yaitu
baru saja terjadi pergantian presiden dan pemelihan legislatif sehingga banyak investor menunda investasinya di Indonesia dan pada saat itu juga tingkat belanja pemerintah masih rendah, faktor lain yang mempengaruhi perlemahan mata uang Indonesia atau Rupiah kuartal I dan kuartal II 2015 lebih rendah dibandingkan dengan perlemahan mata uang Indonesia atau Rupiah pada kuartal I dan kuartal II 2009 karena pada saat tahun 2009 merupakan tahun yang jauh dari krisis ekonomi global pada tahun 1998 sehingga pertumbuhan ekonomi seluruh negara di dunia sudah mulai ada perbaikan dibandingkan pada tahun 2015 yang tahunnya belum lama dari krisis ekonomi eropa tahun 2012 kemarin, walaupun dampaknya sampai ke Indonesia kecil namun negara - negara eropa, timur tengah, asia timur juga mengalami dampak dari krisis ekonomi eropa tersebut yang padahal investor - investor dari negara eropa, timur tengah dan asia timur merupakan investor andalan Indonesia dalam menanamkan modalnya di Indonesia.
Pemerintah pada saat ini sedang melakukan berbagai macam langkah untuk menghindari
semakin terpuruknya perlemahan nilai mata uang Indonesia atau rupiah, dengan cara lebih menekankan pada produksi nasional ketimbang impor serta menggalakkan ekspor nasional kita.
sekian sajian opini dari blog sekitar kita yang materinya di ambil dari sebuah progam di stasiun swasta Indonesia, mungkin pembaca juga mempunyai pemikiran sendiri tentang opini di atas, bisa langsung komentar pada kolom komentar yang telah disediakan.
Pemerintah juga mengatakan bahwa perlemahan mata uang Indonesia atau Rupiah saat ini dari kuartal I sampai kuartal II 2015 memang mempunyai kerendahan di bawah perlemahan mata uang Indonesia atau rupiah kuartal I sampai kuartal II 2009 yang saat itu memang posisinya sama yaitu
baru saja terjadi pergantian presiden dan pemelihan legislatif sehingga banyak investor menunda investasinya di Indonesia dan pada saat itu juga tingkat belanja pemerintah masih rendah, faktor lain yang mempengaruhi perlemahan mata uang Indonesia atau Rupiah kuartal I dan kuartal II 2015 lebih rendah dibandingkan dengan perlemahan mata uang Indonesia atau Rupiah pada kuartal I dan kuartal II 2009 karena pada saat tahun 2009 merupakan tahun yang jauh dari krisis ekonomi global pada tahun 1998 sehingga pertumbuhan ekonomi seluruh negara di dunia sudah mulai ada perbaikan dibandingkan pada tahun 2015 yang tahunnya belum lama dari krisis ekonomi eropa tahun 2012 kemarin, walaupun dampaknya sampai ke Indonesia kecil namun negara - negara eropa, timur tengah, asia timur juga mengalami dampak dari krisis ekonomi eropa tersebut yang padahal investor - investor dari negara eropa, timur tengah dan asia timur merupakan investor andalan Indonesia dalam menanamkan modalnya di Indonesia.
Pemerintah pada saat ini sedang melakukan berbagai macam langkah untuk menghindari semakin terpuruknya perlemahan nilai mata uang Indonesia atau rupiah, dengan cara lebih menekankan pada produksi nasional ketimbang impor serta menggalakkan ekspor nasional kita.
sekian sajian opini dari blog sekitar kita yang materinya di ambil dari sebuah progam di stasiun swasta Indonesia, mungkin pembaca juga mempunyai pemikiran sendiri tentang opini di atas, bisa langsung komentar pada kolom komentar yang telah disediakan.

No comments:
Post a Comment